Tradisi Meron Di Sukolilo Semakin Melenceng Dari Adat Jaman Dulu
Sebelum Membahas judul diatas saya kenalkan dulu apa itu Tradisi Meron Di Sukolilo.
Meron, Untuk Persaudaraan dan Kerukunan.
Sumber Kompas
Jalanan sepanjang satu kilometer yang membelah Pegunungan Kendeng Utara di Desa Sukolilo, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Kamis (17/2), penuh sesak orang. Mereka mengerumuni arak - arakan 14 meron atau gunungan yang
menyerupai tombak yang ujungnya terdapat lingkaran berisi ayam jago atau masjid.
Gunungan itu sangat khas, karena terbagi menjadi tiga bagian.
Bagian teratas adalah mustaka yang berbentuk lingkaran bunga aneka warna berisi ayam jago atau masjid. Ayam jago menyimbolkan semangat keprajurit an, masjid merupakan semangat keislaman, dan bunga simbol persaudaraan.
Bagian kedua gunungan itu terbuat dari roncean atau rangkaian ampyang atau kerupuk aneka warna berbahan baku tepung dan cucur atau kue tradisional berbahan baku campuran tepung terigu dan tepung.
Ampyang melambangkan tameng atau perisai prajurit dan cucur lambang tekad manunggal atau persatuan.
Adapun bagian ketiga
atau bawah gunungan
disebut ancak atau
penopang. Ancak itu
terdiri ancak atas yang
menyimbolkan iman,
ancak tengah simbol
islam, dan ancak ba wah
simbol ikhsan atau
kebaikan.
Masyarakat Sukolilo
mempercayai
barangsiapa
memperoleh salah satu
dari bagian-bagian
gunungan itu akan
mendapatkan berkah
sesuai dengan makna
lambang-lambang itu,
kata Ketua Panitia
Grebeg Budaya Tradisi
Meron Desa Sukolilo, Edy
Purnomo.
Tradisi Meron
merupakan tradisi
tahunan yang digelar
masyarakat Desa Sukolilo
setiap peringatan Maulid
Nabi Muhammad SAW.
Tradisi itu tumbuh sejak
abad XVII. Waktu itu,
Sukolilo masih
kademangan di bawah
Kasultanan Mataram di
bawah perlin dungan
lima bersaudara yang
kerap disebut pendawa
Sukolilo, yaitu Sura
Kadam, Sura Kerto, Sura
Yuda, Sura Dimejo, dan
Sura Nata.
Sura Kadam merupakan
salah satu abdi dalem
Kasultanan Mataram. Dia
menjadi penunjuk jalan
sekaligus prajurit mata-
mata Kasultanan
Mataram ketika Bupati
Pati , Wasisjoyokusuma,
tidak mau tunduk
kepada Kasultanan
Mataram.
Ketika pasukan
Kasultanan Mataram
sampai di Sukolilo,
terjadilah pertempuran
dengan prajurit Pati.
Namun, pertempuran itu
berakhir dengan damai
berkat kepiawaian
berdialog Sura Kadam
dan empat tumenggung
Kasultanan Mataram.
Untuk merayakan
kemenangan perdamaian
itu, digelarlah Tradisi
Meron yang berarti
gunungan keprajuritan
yang membawa
pepadhang (penerang)
persaudaraan dan
perdamaian, kata tokoh
masyarakat Desa
Sukolilo, Ali Zyudi.
Menurut Camat Sukolilo
Sukismanto , Tradisi
Meron diharapkan
mampu memelihara
semangat persaudaraan
yang beberapa waktu
lalu terinjak-injak akibat
tawuran tetangga desa.
Dia juga meminta
semangat Tradisi M eron
dihidupi warga agar
penghargaan
keberagaman selalu
terjaga.
Persaudaraan dan
perdamaian sekarang ini
mahal harganya.
Peliharalah semangat itu
dan wariskan kepada
anak cucu, kata
Sukismanto.
Tapi pada kenyataannya 1 bulan sebelum Meron ada Pasar malam ( dulu tidak ada ) di lapangan Kedung winong. banyak orang Sukolilo yang main di lapangan Kedung winong jadi sekarang ganti nama jadi lapangan Sukolilo, padahal punya Kedung winong. tapi bukan itu masalahnya tapi ada tempat parkir dimana orangnya itu memaksa dan dengan tarif rampok (Mahal) kemaren saya lihat orangnya tidak bisa mengatur lalu lintas. dulu pertama kali orang Sukolilo sendiri sekarang sudah banyak yang membantu karna keuntungan yang besar, sekarang kebanyakan orang Kedung winong. mereka juga sedang mabuk mabukan saat bekerja, saya sendiri juga orang Kedung winong tp saya tidak seperti itu.
apa hal ini patut dicontoh ??
intinya kebanyakan orang yang bekerja di pasar malam itu bukan dari Sukolilo sendiri, salah satunya orang bandung.
coba pikir orang jauh jauh merantau dengan tarif 1 tiket mainan cuma Rp5000 pada tahun 2014 ini, bisa dibilang murah tapi ada tukang parkir yang super mahal tarif bisa Rp5000 keatas. Tentu penghasilan turun drastis karna banyak orang yang memilih wahana bermain diluar yg aman dari tukang parkir.
Seandainya Anda punya anak dan pengen naik kincir angin dan Anda cuma punya uang sedikit, apa Anda akan tetap masuk ? padahal rumah Anda jauh. pasti Anda kecewa. .
disini yang kecewa juga bukan itu saja tapi warga sekitar TKP pasar malam, sudah dikasih kebisingan, sampah banyak berceceran dan gk dapat apa apa.
tapi ada Sekolahan yang baik dan cinta lingkungan. salah satunya adalah SD Negeri Sukolilo 03. Disitu gurunya menyuruh murid muridnya untuk membersihkan lapangan dari sampah yang berceceran setelah pasar malam selesai.
Kenapa harus anak SD yang bertanggung jawab ? padahal saya pernah dengar orang yg bekerja di parkiran bilang sama Koramil sukolilo kalau dia bertanggung jawab atas sampah.
disini yang dirugikan ada 4 orang (orang rantau, warga sekitar, orang yang mau dpt hiburan dan Anak SD )
Dan juga sebelum hari H malamnya ada leang leong kalau disini dibilang ulan ulan.
sebenarnya gk apa apa dan gk ada yang dirugikan. tujuanya cuma menghibur tp di kebudayaan Meron asli tidak ada yang sepeti itu.
Sebelumnya saya minta maaf atas penulisan kata dan bagi orang atau Desa yang tersinggung.
saya disini cuma menulis artikel untuk berbagi dan semoga Para Penjabat besar dan kecil tergerak hatinya dengan keresahan warga ini.
Banyak Penjabat sekarang yang memakan gaji buta tapi saya yakin Penjabat yang mengurus desa ini baik baik.
Meron, Untuk Persaudaraan dan Kerukunan tidak sesuai kenyataan.
Sukolilo - Pati, Jawa Tengah 04.01.2014
Blogger yang baik selalu meninggalkan jejak
Meron, Untuk Persaudaraan dan Kerukunan.
Sumber Kompas
Jalanan sepanjang satu kilometer yang membelah Pegunungan Kendeng Utara di Desa Sukolilo, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Kamis (17/2), penuh sesak orang. Mereka mengerumuni arak - arakan 14 meron atau gunungan yang
menyerupai tombak yang ujungnya terdapat lingkaran berisi ayam jago atau masjid.
Gunungan itu sangat khas, karena terbagi menjadi tiga bagian.
Bagian teratas adalah mustaka yang berbentuk lingkaran bunga aneka warna berisi ayam jago atau masjid. Ayam jago menyimbolkan semangat keprajurit an, masjid merupakan semangat keislaman, dan bunga simbol persaudaraan.
Bagian kedua gunungan itu terbuat dari roncean atau rangkaian ampyang atau kerupuk aneka warna berbahan baku tepung dan cucur atau kue tradisional berbahan baku campuran tepung terigu dan tepung.
Ampyang melambangkan tameng atau perisai prajurit dan cucur lambang tekad manunggal atau persatuan.
Adapun bagian ketiga
atau bawah gunungan
disebut ancak atau
penopang. Ancak itu
terdiri ancak atas yang
menyimbolkan iman,
ancak tengah simbol
islam, dan ancak ba wah
simbol ikhsan atau
kebaikan.
Masyarakat Sukolilo
mempercayai
barangsiapa
memperoleh salah satu
dari bagian-bagian
gunungan itu akan
mendapatkan berkah
sesuai dengan makna
lambang-lambang itu,
kata Ketua Panitia
Grebeg Budaya Tradisi
Meron Desa Sukolilo, Edy
Purnomo.
Tradisi Meron
merupakan tradisi
tahunan yang digelar
masyarakat Desa Sukolilo
setiap peringatan Maulid
Nabi Muhammad SAW.
Tradisi itu tumbuh sejak
abad XVII. Waktu itu,
Sukolilo masih
kademangan di bawah
Kasultanan Mataram di
bawah perlin dungan
lima bersaudara yang
kerap disebut pendawa
Sukolilo, yaitu Sura
Kadam, Sura Kerto, Sura
Yuda, Sura Dimejo, dan
Sura Nata.
Sura Kadam merupakan
salah satu abdi dalem
Kasultanan Mataram. Dia
menjadi penunjuk jalan
sekaligus prajurit mata-
mata Kasultanan
Mataram ketika Bupati
Pati , Wasisjoyokusuma,
tidak mau tunduk
kepada Kasultanan
Mataram.
Ketika pasukan
Kasultanan Mataram
sampai di Sukolilo,
terjadilah pertempuran
dengan prajurit Pati.
Namun, pertempuran itu
berakhir dengan damai
berkat kepiawaian
berdialog Sura Kadam
dan empat tumenggung
Kasultanan Mataram.
Untuk merayakan
kemenangan perdamaian
itu, digelarlah Tradisi
Meron yang berarti
gunungan keprajuritan
yang membawa
pepadhang (penerang)
persaudaraan dan
perdamaian, kata tokoh
masyarakat Desa
Sukolilo, Ali Zyudi.
Menurut Camat Sukolilo
Sukismanto , Tradisi
Meron diharapkan
mampu memelihara
semangat persaudaraan
yang beberapa waktu
lalu terinjak-injak akibat
tawuran tetangga desa.
Dia juga meminta
semangat Tradisi M eron
dihidupi warga agar
penghargaan
keberagaman selalu
terjaga.
Persaudaraan dan
perdamaian sekarang ini
mahal harganya.
Peliharalah semangat itu
dan wariskan kepada
anak cucu, kata
Sukismanto.
Tapi pada kenyataannya 1 bulan sebelum Meron ada Pasar malam ( dulu tidak ada ) di lapangan Kedung winong. banyak orang Sukolilo yang main di lapangan Kedung winong jadi sekarang ganti nama jadi lapangan Sukolilo, padahal punya Kedung winong. tapi bukan itu masalahnya tapi ada tempat parkir dimana orangnya itu memaksa dan dengan tarif rampok (Mahal) kemaren saya lihat orangnya tidak bisa mengatur lalu lintas. dulu pertama kali orang Sukolilo sendiri sekarang sudah banyak yang membantu karna keuntungan yang besar, sekarang kebanyakan orang Kedung winong. mereka juga sedang mabuk mabukan saat bekerja, saya sendiri juga orang Kedung winong tp saya tidak seperti itu.
apa hal ini patut dicontoh ??
intinya kebanyakan orang yang bekerja di pasar malam itu bukan dari Sukolilo sendiri, salah satunya orang bandung.
coba pikir orang jauh jauh merantau dengan tarif 1 tiket mainan cuma Rp5000 pada tahun 2014 ini, bisa dibilang murah tapi ada tukang parkir yang super mahal tarif bisa Rp5000 keatas. Tentu penghasilan turun drastis karna banyak orang yang memilih wahana bermain diluar yg aman dari tukang parkir.
Seandainya Anda punya anak dan pengen naik kincir angin dan Anda cuma punya uang sedikit, apa Anda akan tetap masuk ? padahal rumah Anda jauh. pasti Anda kecewa. .
disini yang kecewa juga bukan itu saja tapi warga sekitar TKP pasar malam, sudah dikasih kebisingan, sampah banyak berceceran dan gk dapat apa apa.
tapi ada Sekolahan yang baik dan cinta lingkungan. salah satunya adalah SD Negeri Sukolilo 03. Disitu gurunya menyuruh murid muridnya untuk membersihkan lapangan dari sampah yang berceceran setelah pasar malam selesai.
Kenapa harus anak SD yang bertanggung jawab ? padahal saya pernah dengar orang yg bekerja di parkiran bilang sama Koramil sukolilo kalau dia bertanggung jawab atas sampah.
disini yang dirugikan ada 4 orang (orang rantau, warga sekitar, orang yang mau dpt hiburan dan Anak SD )
Dan juga sebelum hari H malamnya ada leang leong kalau disini dibilang ulan ulan.
sebenarnya gk apa apa dan gk ada yang dirugikan. tujuanya cuma menghibur tp di kebudayaan Meron asli tidak ada yang sepeti itu.
Sebelumnya saya minta maaf atas penulisan kata dan bagi orang atau Desa yang tersinggung.
saya disini cuma menulis artikel untuk berbagi dan semoga Para Penjabat besar dan kecil tergerak hatinya dengan keresahan warga ini.
Banyak Penjabat sekarang yang memakan gaji buta tapi saya yakin Penjabat yang mengurus desa ini baik baik.
Meron, Untuk Persaudaraan dan Kerukunan tidak sesuai kenyataan.
Sukolilo - Pati, Jawa Tengah 04.01.2014
Blogger yang baik selalu meninggalkan jejak
Post a Comment